Friday, June 05, 2015

IBUMU





Ziarah memang sudah dibolehkan. Sudah tak dilarang.
TAPI,
Ziarah jangan terpeleset. Jangan keliru. 
Doa dimakam hanyalah bagi simati, bukan untukmu. 
Jangan terpeleset. Jangan keliru.
Doa dimakam adalah barokah bagi simati bukan untukmu.
Jangan terpeleset. Jangan keliru.
Doa dimakam tidak lebih utama dari doa dimanapun. 
Jangan terpeleset. Jangan keliru.
Doa dimakam tidak lebih berarti dari doa dimanapun. 
Jangan terpeleset. Jangan keliru.

Bila kau ingin beribadah dan mendapat barokah, 

INGATLAH INI:

Barokah kau dapatkan bukan dari yang kau kunjungi tapi dari Allah SWT lantaran tindakanmu. 
Keramat dan barokah yang paling tinggi dan utama adalah IBUMU.
BUKAN kuburan. Kuburan ulama terhebat sekalipun. 
Mengunjungi IBUMU adalah lebih utama dan lebih manfaat bagimu daripada ziarah ke makam sejuta ulama. 
Tak ada sesiapapun yang mampu memberikan barokah lebih besar dari IBUMU. Seburuk apapun IBUMU. 
Tak ada satupun ulama memiliki ilmu yang tingginya mampu mengalahkan ilmu KASIH SAYANG IBUMU. Sebodoh apapun IBUMU. 

BIla kau tak mampu memberikan apapun pada IBUMU, ketahuilah, kehadiranmu di hadapannya sudah cukup bagi IBUMU.
Bila kau tak mampu membelikan apapun untuk IBUMU, ketahuilah, meluangkan waktumu untuk mendengarkan curhatannya adalah lebih berharga bagi IBUMU daripada segunung emas. 
Bila kau tak mampu mengajaknya jalan-jalan, ketahuilah, melihat wajahmu adalah perjalanan surgawi bagi IBUMU.
Bila kau jauh dari IBUMU, sebuah sms seharga Rp.300; menanyakan kabarnya adalah senandung melodi terindah bagi IBUMU. 
Bila kau tak mampu menghibur gundah IBUMU, ciumlah tangannya, kecup keningnya, itu adalah gelegar keteduhan bagi IBUMU. 
Bila kau tak mampu memberi ilmu apapun bagi IBUMU, bersimpuhlah dihadapannya, itu adalah keagungan tak tertandingi bagi IBUMU. 
Bila kau tak mampu membelikan rumah bagi IBUMU, ketahuilah, pelukanmu adalah naungan terluas, teraman dan terindah bagi IBUMU. 
Bila kau tak mampu membelikan mobil untuk IBUMU, sampaikanlah permohonan maafmu dan itu akan jadi kendaraan termewah bagi IBUMU. 
Bila kau tak dapat memberikan gemerlap dunia, ketahuilah, tundukmu pada IBUMU adalah kegemilangan dunia tertinggi bagi IBUMU. 

Bila kau tak setuju dengan IBUMU, itu adalah persimpangan bagimu. DIAM maka Surga bagimu. Menyanggah dan menjadikan hati IBUMU terluka, maka Neraka terbuka lebar bagimu. Sebaik apapun dirimu. 

Barokah hidup ini sangat sederhana. Asuh IBUMU seperti IBUMU mengasuhmu.

*Tak ada ulama yang mampu jadi sumber kasih sayang tak berujung seperti IBUMU. 
  Ingat ngambeknya kita waktu kecil? rengekan kita minta mainan? 
*Tak ada ulama yang mampu memaafkanmu setulus IBUMU
  Ingat bandelnya kita waktu kecil? ngeyelnya kita semasa remaja? 
*Tak ada ulama yang mampu mengkhawatirkanmu sebesar IBUMU mengkhawatirkanmu. 
  ingat sewaktu anak kita sakit? ingat sewaktu anak kita akan ujian sekolah? ingat sewaktu tahu anak       kita jatuh cinta? ingat sewaktu anak kita melamar atau dilamar? ingat sewaktu anak kita 
  kehilangan pekerjaan? ingat sewaktu anak kita ditinggal pacar atau suami/istrinya? 
*Tak ada ulama yang mampu  mencintaimu sebesar IBUMU mencintaimu.
  Kita tumbuh di dalam tubuhnya. kita menikmati apapun yang dimakan dan diminumnya. Kita            mendorongnya kebibir maut saat kita lahir. Kita membangunkannya ditengah malam.  Kita 
  menghisap saripati dari tubuhnya. 

Bila ziarah adalah wajib, maka makam IBUMU adalah yang paling wajib kau ziarahi. 
Bila doa dimakam adalah lebih utama, maka doa dimakam IBUMU adalah yang paling utama
Bila ada manusia yang boleh kau puja, maka IBUMU adalah yang harus kau puja. 

IBUMU. 
Lebih pantas dapat segala apa yang kau miliki. Dan itu masih tak mampu menyamai apa yang IBUMU berikan padamu. 


Jakarta, 6 Juni 2015


Monday, December 15, 2014

Cinta. Cinta. Cinta.



Saat istri mencium tangan suami, ia sedang mengatakan "aku menghormatimu dan mencintaimu" maka balaslah dengan mencium tangannya juga karena ia akan mendengar "aku menyayangimu dan akan menjaga kehormatanmu"

Dan apa yang orang pikir saat melihat adegan ini?


Kebanyakan orang-terutama para lelaki akan berpikir bahwa sang suami merendahkan dirinya dengan mencium tangan istrinya. Mudah-mudahan saya keliru. 
Karena dalam cinta, tidak ada yang lebih rendah atau lebih tinggi.
Tidak ada yang bodoh atau pintar. 
Cinta tidak mengenal kosa kata perbandingan semacam itu. 
Ia hanya tahu cinta. 
Cinta hanya mengerti cinta.
Tak ada kompetisi.
Tak ada pertarungan.
Tak ada yang kalah atau menang.
Karena ia adalah cinta yang hanya bisa bersanding dengan kasih sayang, penghormatan, pemuliaan, saling jaga, saling memuliakan.
Cinta adalah anugerah, niscaya ia akan indah.
Tidak pada waktunya, akan tetapi saat ini. 
Harus detik ini. 
Tidak suatu saat nanti. 
Tidak di masa yang akan datang.
Ia hadir hari ini. 
Saat ini. 
Detik ini.
Cinta adalah keindahan hari ini.
Ia hanya bisa dilihat sebagai kenangan bukan rencana.
Cinta tidak ada rencana.
Ia dari Sang Maha Pencinta, maka ia adalah indah.
Maka ia adalah cinta. Cinta. Cinta. 
Bukan kerja, kerja, kerja,
apalagi kodok, kodok, kodok...


Jakarta, 16 Desember 2014

Sunday, February 16, 2014


Kenangan Membara

Bila kenangan adalah sebuah kota,
Niscaya akan kuhancurkan sebagian
Demi tenteram sebagian
Bila kenangan adalah sebuah kota,
Takkan kubiarkan ia banjiri hari ini
Takkan kubiarkan ia macetkan masa kini
Bila kenangan adalah sebuah kota,
Kan kupastikan ia adalah selalu cantik jelita
Kan kupastikan ia adalah istana kota
Tapi kenangan bukanlah sebuah kota
Ia adalah diri ini
Tapi kenangan bukanlah sebuah istana
Ia adalah engkau
Tapi kenangan tak berwujud walau ia nyata
Senyata kau dan aku
Kenangan terlalu sakral untuk dihancurkan
Karena ia adalah bukti sekaligus saksi
Bahwa hari ini ada
Ia adalah bukti sekaligus pengingat
Bahwa esok kenangan akan tetap ada.
Jakarta Selatan, di sana ku berwujud
Jakarta Selatan di sana kenanganku menyata
Jakarta Selatan di Sana hidupku
Jakarta Selatan di sana saksiku menatap
Jakarta Selatan tumpahkan segala karunia Tuhan padaku
Jakarta Selatan ratapi khianatku
Tapi ia tetap curahkan karunia Tuhan padaku
Apa yang kulakukan?
Tidak, tak kubalas kota ini dengan cinta dan kasih
Tak kubayar dengan berahi dan cumbuan
Jakarta Selatan, ku khianati kau berkali-kali
Jakarta Selatan kutikam udaramu dengan asap
Jakarta Selatan kuhujam tanahmu dengan limbah
Jakarta Selatan kunodai airmu dengan najis
Berapa kalikah? Berapa banyakkah?
Setiap jejak langkahku.
Jakarta Selatan, ku bukan penghujat Luthfie
Pun bukan ku pemujanya.
Satu yang kutakut adalah murka Tuhan Luthfie.
Jakarta Selatan, pahamilah detik-detik kalimat ini
Sesalku membara, bersalahku membakar
Menjilat dan meremuk setiap jengkal tubuh dan belulangku
Jakarta Selatan tempatku yang kuhinakan meski tetap kuhuni
Ingin kuhancurkan gelap-gelapmu wahai Jakarta Selatan
Tapi kuingat, kau adalah saksi dan bukti hidupku
Sapi-sapi itu memang terlihat dan terdengar menggoda dan menggiurkan
Tapi Luthfie tetap mesti berjalan dan aku tak membelanya pun menghujatnya
Takutku pada Sang Pencipta yang juga telah ciptakanmu Jakarta Selatan

Maka maafkanlah najisku, limbahku, asapku. 

Jakarta, !7 Februari 2014

Wednesday, August 17, 2011

Gelap nian merdekamu bung!




Bung, Merdekaku tidak seperti ini.
Tidak hari ini.
Merdekaku adalah berasal dari nurani bukan syahwati.
Merdekaku adalah demi pertiwi bukan dekadensi.
Bung, revolusiku bukanlah untuk merdekamu ini.
Revolusiku bukanlah untuk para durjana ini.
Bung, Merdekaku adalah untuk kalian.
Untuk tiap butir jiwa Indonesia.
Bung, Merdekaku bukan hari ini.
Tidak akan pernah hari ini.
Merdekaku bung, suci. Tidak berlumur najis hari ini.
Tidak ternoda nila gentayangan penuh angkuh berkibar tanpa malu di penjuru pertiwi.
Bung, Merdekaku tak berjelaga nista berpura hormat.
Tak berjelaga nista bercitra anggun.
TIDAK! Sekali-sekali TIDAK!
Kataku,dengarkan kataku, Merdekaku SUCI!
Merdekaku bukan merdekamu hari ini bung!
Merdekaku adalah MERDEKA!
Merdekaku adalah penat bagi para durjana, anugerah bagi bangsa.
Merdekaku tidak akan pernah disungguhi para durjana, tapi disesapi anak bangsa nan murni.
Bung! Bangunlah! Bangunlah! Kataku, BANGUNLAH!
Merdekamu hari ini BUKAN MERDEKAKU BUNG!
Merdekaku putih suci,
Merdekaku tulus nan ikhlas,
Merdekaku murni nan kokoh,
Merdekaku lugu nan perkasa,
Merdekaku lembut nan tegar,
Merdekaku teduh nan gempita
Merdekaku jujur nan berani,
Merdekaku lurus nan berkilau,
Merdekamu bung, merdekamu bung,
Merdekamu Gelap nian,
Merdekamu tak lagi bening,
Merdekamu tak lagi bersahaja,
Merdekamu tak lagi madu,
Merdekamu tak lagi sejuk,
Merdekamu tak lagi naungi,
Merdekamu bung, Merdekamu, BUKAN lagi MERDEKAKU!
Merdekamu kini penuh congkak!
Merdekamu kini penuh angkara!
Merdekamu kini penuh durjana BUNG!
Bung, dengarlah bung! BANGUNLAH!!! BANGUNLAH!!! Kataku, BANGUNLAH!!!
Merdekamu nista nian. Merdekamu Gelap bung…Gelap nan nista…

Jakarta, 17 Agusutus 2011.

Saturday, February 20, 2010

Gelora Pertiwi

Kuasailah pertiwi ini dengan sukmamu
Zinahilah ia dengan syahwatmu
Rajam ia dengan angkaramu
Tidak akan kuasa aku halangimu
Tidak akan mampu aku halau syaitanmu
Tidak akan aku biarkan semua berlalu
Ingatlah sucinya pertiwi ini
Ingatlah gemilangnya permata nusantara
Ingatlah gelora hidupnya
Ia tidak akan pernah mati
Ia tidak akan selamanya diam
Ia tidak akan mati
Pertiwi ini terlalu tangguh
Pertiwi ini sangat perkasa
Pertiwi ini akan bangkit kembali

Friday, May 15, 2009

Mengertilah

Riuh rendah manusia
Berlari ke sana ke mari
Gempita jaya manusia
Kisaran bumi
Satu dua tersandung
Satu dua merenung
Coba mengerti
Coba pahami
Apakah yang perlu dimengerti
Apakah yang perlu dipahami
Berlomba manusia temukan
Berlomba domba tumpukkan
Domba-domba tertawa
Bahagia
Demi waktu,
Apakah mereka pikir telah menang?
Demi masa,
Apakah mereka pikir telah raih surga?
Aku tak tahu
Aku tak mengerti
Hanya coba jalani hidup
Berjuang agar tidak menjadi domba laknat
Berjuang agar tidak menjadi domba terkutuk
Berjuang agar tidak menjadi domba tersesat
Aku tak mengerti apa yang harus kumengerti
Mengertikah kau apa yang harus kau mengerti?
Beritahu diriku segera agar dapat ku tuntaskan
Beritahu diriku segera agar dapat ku tunaikan
Sudah terlalu banyak hutang jiwaku pada pertiwi
Menjulang menumpuk sebarkan aroma bingung
Meninggi lebihi leher tebarkan pesona linglung
Kau rasakankah semua itu?
kau ciumkah aroma ini?
Apapun yang harus kau mengerti tidak akan pernah dapat
Apapun yang harus kau pahami tidak akan pernah dapat
Karena ia sendiri tidak dapat memahami
Karena ia sendiri tidak biarkan dipahami
Tidak ijinkan pemahaman apapun
Itulah hidup

Jakarta, 13 Maret 2007

6 Maret 2009

Tepat tiga puluh empat tahun lalu sebuah kehidupan baru dimulai bagiku
Berjuta asa berjuta harap mengiringi jerit tangis pertama dalam hirupan awal nafas
Kebahagiaan tak terhingga menyambut permata
Kegembiraan tak terlukis memegang karunia
Berjuta mimpi terbentuk berjuta indah terbentang mengawal sentuhan pertama
Siapa pernah sangka siapa pernah kira tak ada yang tahu apa terencana
Bertahun terjalani pasang kaki meretas nasib
Bertahun peristiwa membuka tabir takdir
Tak ada kuasa menolak tak ada mampu menghindar
Terseok arus terjerembab jungkal
Baik buruk panas teduh perih pedih luka menganga tertutup waktu tersembuh kisah baru
Bantingan hempasan puntiran hanya ada dalam kepala selebihnya hanya cara
Mari berduka maka hanya gelap mari bergembira maka akan terlupa
Baiknya waspadai
Terima dengan lapang tak berujung hadapi bulir-bulir nasib
Terima dengan lapang tak berakhir terima dengan syukur
Masih terperosok makin mengingkari bahkan menghujat dan menantang ku berani
Kembali diingati kembali dihadapi
Kuasa siapa yang berkuasa harga apa yang harus terbayar
Datanglah wahai detik-detik pengampunan tertunduk dalam cengang akan kuasa siapa
Datanglah dengan pergi duhai palsu kuasa
Datanglah demi cita terkubur dalam jiwa terdalam
Pergilah dengan senyum jangan lukai diri yang mengelupas geram
Pergilah demi asa akhir bahagia yang tak kunjung merupa
Tibalah sang sunyi telanjangi diri sampai ke butir-butir terhina diri
Tibalah sang sunyi demi kesungguhan dunia nanti nan indah tak peduli betapa pahit kini
Sunyi kian hening menguji kebingaran menggoda kebisingan yang tampak indah sensual
Sunyi demikian rapat mengepung hingga timbul keributan tanpa suara
Sadarkah? Demi inikah terjadi semua? Karenanyakah terjadi? Atau hanya sugesti batin?
Tiga puluh empat tahun tepat hari ini kuberdiri di tempat terindah muka bumi miliki
Berdiri didampingi wanita terindah dalam hidup
Ku terlahir kembali dengan terucapnya sumpah dihadapan segala makhluk bumi langit
Ku terlahir lagi diiringi jutaan harap dan mimpi yang telah menyembuhkan luka diri
Sumpah untuk wanita terindah telah memberikan nafas awal dalam setengah renta hidup
Wanita terindah telah berikan sentuhan besar menyentuh dasar diri sadari permata
Wanita terindah tak rupawan tak bercela namun permata tetaplah permata
Wanita terindah adalah karunia hidupku yang baru
Wanita terindah terima kasih untuk bahagia ini asa ini mimpi ini
Terima kasih Lilisku....

Thursday, February 05, 2009


Sejumput Bagi Dipanku ya Sang Adil


Apa yang mereka katakan
Ku tak mengerti
Apa yang ku katakan
Mereka tak mengerti
Bilakah jadinya hari?
Sukma ini sudah hampir sampai
Dipanku sudah siap dituai
Tak mengertikah mereka?
Tak tahukah mereka?
Siapakah yang akan renggut?
Berdebar jiwa ini
Dalam penantian diujung dipan
Seumur hidupku terhampar jelas
Dipan ini adalah kisaran hidupku
Dimana kubersembunyi
Dimana kumenari
Dimana kubernyanyi
Pelosok dipan inilah sang saksi
Sampai saat nanti terangkat
Bilakah akan berangkat?
Tak sabar ku menuai dipanku
Berdebar batin ini
Berharap penuh pada kasih Sang Adil
Sisa-sisa dipan yang belum terisi
Dapatkah kumuliakan?
Agar nampak mulia dipanku
Bagi mata Sang Adil
Sungguh, takutku takut tak berujung
Sungguh, gelisahku gelisah tak berhilir
Mungkinkah Sang Adil serahkan
Sejumput iba bagi kaki-kaki penuh memar
Sejumput asih bagi lambung penuh lebam
Bersiaplah wahai jasadku
Hadapi remuknya agungmu
Hadapi kerdilnya parasmu
Dihadapan Sang Adil




Jakarta, 24 Maret 2008


Pujangga Air Mata

Jelas ini adalah kesumat
Jelas gelap jalan itu
Jelas ini adalah dusta
Ditebarkan seperti jala
Dilemparkan seperti bola
Disiarkan seperti pertandingan
Bingunglah
Fitnah itu tidak akan pernah punah
Bohongi tiap relung telinga
Sentuh organ terlarang
Cumbui perawan binal
Gunung-gunung akan tertawa
Lembah bukit akan bersujud
Air tidak lagi lembut
Pasir tidak lagi bercerai
Ayo selami arti ini
Akan kau temui makna
Pujangga menerawang angkasa
Bercinta dengan bintang
Berzinah dengan meteor
Hakimi ia
Bunuh ia
Pujangga akan tetap cumbui
Sampai puas hati
Sampai datang mati
Pujangga adalah cenayang
Melihat seperti tak tampak
Meraba seperti tak tersentuh
Kerjamu adalah mata air
Sejukkan kerontang selongsong
Baluri dentuman nadi
Di dada pujangga terletak hidup
Di dada pujangga ada cemas
Penuhi selaksa rembulan pedih
Kupas tiap purnama hingga sabit
Tuntaskan tuntutan hajat
Pujangga jujur mati demi hari
Pujangga bodoh tak ingin pandai
Kepedulianmu akan tentramkan matinya
Ulurkan tangan akan kau temui
Pujangga yang di sejukkan simpatimu
Ulurkan jiwa akan kau temui
Pujangga bersenjata air mata
Jakarta, 12 Maret 2007

Merengkuh Hariku Dalam Tiap Asa




Merengkuh hariku dalam tiap asa
Merengkuh jiwamu dalam dusta
Janji-janji bersayap patah
Sungguhkah patah
Mimpi-mimpi indah musnah
Di tangan sang surya
Benarkah sang surya

Menoleh menanti tertunduk
Tiada dirimu tak kunjung dikau
Lelah dalam sunyi
Biarkanlah jiwa ini terbang tanpa sayap
Biarkanlah jiwa ini terbang tanpa arah
Biarkanlah jiwa ini mengembara dalam deru bisu

Mencinta terluka mati
Tak satupun tunjukan
Kesungguhan cinta murni
Tak satupun tunjukan
Bahagia sejati

Mengapa mesti kujalani takdir
Mengapa mesti kutempuh nasib
Persetujuan apakah yang sah
Persetujuan yang tak kuingat
Persetujuan yang tak kusadari.
Mungkinkah segala pilihan ini
Takdirkah, nasibkah, atau hanya sia-sia

Pelajaran hidup
Hidup yang tak pernah mau dipelajari
Pelajaran hidup
Hidup yang tak mau dimengerti
Pelajaran hidup
Hidup yang sia-sia
Pelajaran hidup
Hidup yang laknat
Pelajaran hidup
Hidup yang penuh carut
Pelajaran hidup
Hidupkukah?
Pelajaran hidup
Hidupmu?
Pelajaran hidup
Hidup siapakah
Jakarta, 23 Mei 2007

Tahukah Dikau?




Mungkinkah kau tahu
Rasanya dirajam?
Mungkinkah kau tahu
Rasanya kulit disayat bara?
Mungkinkah kau tahu
Rasanya daging ditoreh?
Mungkinkah kau tahu
Rasanya diguyur air mendidih?
Mungkinkah kau tahu
Rasanya kaki direjang hingga putus?
Mungkinkah kau tahu
Rasanya mata dicungkil arit?
Mungkinkah kau tahu
Rasanya kemaluan disetrum?
Mungkinkah kau tahu
Rasanya dubur dihujam?
Mungkinkah kau tahu
Rasanya jemari disetrika?
Mungkinkah kau tahu
Rasanya lengan dipuntir putus?
Mungkinkah kau tahu
Rasanya lambung dirobek golok tumpul?
Mungkinkah kau tahu
Rasanya mulut dicolok besi panas?
Mungkinkah kau tahu
Rasanya pipi sobek dihajar popor?
Mungkinkah kau tahu
Rasanya telinga dimasuki kumbang raja?
Mungkinkah kau tahu
Rasanya hidung lenyap dikail?
Mungkinkah kau tahu
Rasanya leher diputus gunting kuku?
Mungkinkah kau tahu
Rasanya jakun direnggut catut?
Mungkinkah kau tahu
Rasanya tengkorak dipecah linggis?
Mungkinkah kau tahu
Rasanya urat ditarik lepas dari tubuh?
Mungkinkah kau tahu
Rasanya?
Sakitnya?
Takutnya?
Perihnya?
Pedihnya?
Mungkinkah kau tahu?
Sakitkah?
Takutkah?
Perihkah?
Pedihkah?
Mungkinkah kau tahu
Rasanya mengharap mati segera datang?
Rasanya berdoa ajal segera menjemput?
Rasanya memohon malaikat maut tiba?
Mungkinkah kau tahu?
Mungkinkah kau tertawa?
Mungkinkah kau sedih?
Mungkinkah kau tetap suci?
Mungkinkah kau tetap tegar?
Mungkinkah kau tetap tersenyum?
Mungkinkah kau tetap indah?
Mungkinkah kau tetap bahagia?
Mungkinkah kau tetap berdiri?
Mungkinkah kau tetap dirimu?
Mungkinkah kau tetap yang kucinta?
Mungkinkah kau tetap yang kudamba?
Mungkinkah kau tetap yang kupuja?
Mungkinkah kau tahu rasanya?
Rasa hidup dalam kematian?
Rasa kematian tanpa hidup?
Mungkinkah kau tahu?
Rasaku dalam jiwa ini
Rasaku dalam batin ini
Rasaku dalam sukma ini
Rasaku dalam hati ini
Rasaku dalam jantung ini
Rasaku dalam dada ini
Rasaku dalam diri ini
Rasaku dalam hidup ini
Rasaku dalam dirimu
Mungkinkah kau tahu
Rasakanlah
Rasakanlah diriku
Rasakanlah pedihku
Rasakanlah perihku
Rasakanlah sakitku
Rasakanlah takutku
Mungkinkah kau rasakan

Jakarta, 23 Mei 2007

Saturday, February 17, 2007

Tak Mengertikah Aku?

Kulihat indah permainya
Kurasakan desiran menggigilkan
Tetap kusambut dan kusambut
Kini kebekuan melingkupi
Tidak lagi sejuk
Tidak lagi nyaman
Melangkah dalam ngilu
Tertidur dalam nafsu
Kuingin apa yang kuingin
Biar pemirsa mencerca
Biar hakim memvonis
Asal mereka tahu diriku
Diriku adalah aku
Aku bukan kau
Kau tak dapat bunuh diriku
Diriku bebas dan bebas
Kujalani apa yang terjalan
Kedengkianmu takkan rubah inginku
Ya, akulah si ego
Biar kau bunuh, aku tetap hidup
Bingungmu adalah rahmatku
Bahagiaku adalah teka-teki
Gembiraku adalah misteri
Melonjak-lonjak saat ternoda
Bersorak-sorak saat tercemar
Tambahlah kebingunganmu
Tambahlah bahagiaku, gembiraku
Hidupku tak lebih hari-hari berlalu
Tanpa suatu daya menghilangkan penat bumi
Nuansa-nuansa hidup belum lagi berpendar
Kehidupan baru yang indahlah impianku
Keindahan yang penuh perjuangan
Idamanku idaman yang tak termengerti
Tak termengerti oleh apapun, juga kata dan huruf


Jakarta, 26 September 1994

Pelabuhan Keagungan

Pelabuhan kemegahan
Bersandar di sana perahu kepongahan
Tertambat berpuluh kapal keriaan
Pelabuhan kesombongan
Merapat di sana sampan-sampan tuli
Berlabuh berkumpul menambah tuli
Tak sadari hari telah senja
Gelap kan datang
Rembang mereka kata fajar
Mengambang mereka tak sadar
Berpesta sambut penghuni baru
Berpora mengubur kata hati
Terancam mereka tak peduli
Hampir tenggelam mereka tak perhati
Tequila telah sampai di leher mereka terbahak
Hangus mata mereka kian bangga
Betapa pedihnya gembira tawa mereka
Betapa pahitnya senyum bahagia mereka
Betapa hampanya pekik kemenangan mereka
Betapa tertipu keyakinan mereka
Betapa terjajah kemerdekaan mereka
Tak lihat mata mereka
Tak dengar telinga mereka
Tak rasa hati mereka
Pelabuhan keagungan telah rampung
Pelabuhan keagungan telah terisi
Perahu-perahu, kapal-kapal sampan, takwa
Bersandar di sana berlabuh di sana merapat
Bersiap menyambut kemenangan
Bersiap mengubur kepahitan
Bersiap menyongsong fajar
Pelabuhan keagungan telah kibar bendera
Kejayaan kebenaran telah tiba
Tak satupun dapat menahan
Tak satupun dapat hentikan
Kebenaran telah terbit hancurkan pelabuhan sesat
Kebenaran telah berjaya tenggelamkan pelabuhan syaitan
Kebenaran telah berangkat hanguskan pelabuhan jahanam
Kebenaran tebarkan kedamaian
Kebenaran hadirkan keinsafan
Kebenaran ciptakan keindahan
Kebenaran datangkan kebahagiaan
Tiada lagi prahara tak terjala
Tiada lagi perkara tak terbela
Semua semata kebenaran yang benar
Semata keadilan yang adil
Tenteramkan nyenyak rakyat
Nyamankan desah sawah
Sejukkan tetes api
Tenangkan resah lautan
Karena...pelabuhan keagungan telah rampung
Bangkit dan berjaya selamanya....


Jakarta 8 Juli 1994

KEMBALI INSYAFI

Kehidupan tanpa kasih
Amat pedih terasa
Terbayang usangnya usia
Penuh dengan kecongkakan
Sesal kini membara dada
Takkan kubiarkan bayang menghantu
Hari ini kan terlihat
Kerinduan palsu membuai
Menghentak-hentak dalam kalbu
Menyiksa tiap bulir darah
Kuyakin akan kebenaran yang benar
Kuyakin akan kesalahan yang salah
Tak mungkin ikuti arus
Harus segera akhiri petaka meronta
Tak ku peduli apa
Asal kupuaskan ini derita kupunya
Bagimu kusembahkan derita ini
Bagimu kusembahkan luka-luka nurani
Semoga kau terima dengan penuh
Semoga kau terima dengan teguh
Kebahagiaan adalah impian
Demi masa bahagia aku menangis
Agar terlega jiwa raga
Kuharap tak satupun penghalang
Sampainya pedihku padamu
Sampainya kelu di kalbu
Ya, semoga termengerti semua
Bahwa senyumku padamu adalah pahit
Bahwa candaku bersamamu adalah sembilu
Bahwa tawaku padamu adalah tangis
Semoga, semoga surya menerangi
Semoga bisikan mengingati
Semoga kondisi isyafi
Ya, kembali semoga dan semoga.....


Jakarta, 26 September 1994

OPTIMISKU

Dalam pelukan pedih
Dalam rangkulan perih
Dalam rengkuhan pilu
Ku tebar benih OPTIMIS
Ku coba pupuk agar tumbuh sehat
Dengan harap menjadi peneduh
Dengan harap menjadi penyejuk
Dalam misteri tua nanti
Dalam tanya hidup nanti
Kini dalam naungan tanya
OPTIMISKU belum sebesar gundah
OPTIMISKU belum sekuat resah
OPTIMISKU belum serimbun bimbang
Kemanakah kan ku berteduh
Kemanakah kan ku bernaung
Kemanakah kan ku berlindung
Sementara OPTIMISKU kerdil
Sementara OPTIMISKU terhama
Sementara OPTIMISKU merana
OPTIISKU malang OPTIMISKU sayang
OPTIMISKU ditilang
OPTIMISKU ditendang
OPTIMISKU dicincang
OPTIMISKU dibuang
OPTIMISKU sayang OPTIMISKU malang
Menggelepar dihembus sejuk bara
Menggeliat diterpa harum polusi
Mengejang dilindas nikmat ayunan sangkur
Oh, OPTIMISKU....



Jakarta, 21 Agustus 1996

Mungkin Tersampai Juga

Kutuliskan kata
Merangkai duka
Lepaskan beban
Menyiksa
Kuinginkan yang tak mungkin
Walau kutahu tetap kuingin
Biarlah bayang dalam benak
Tak lenyap
Kupuaskan hatiku
Dengan untaian mutiara
Berkilau tuk di puja
Mausia-manusia
Walau tak tercapai
Maksud tinta
Cukuplah lepas
Derita tak berbekas
Semoga keampunan
Legakan rongga
Kepala yang terjepit
Nadi-nadi kepalsuan

San diego, 3 Februari 2002

Kehidupan Yang Kuhidupi

Ego diri, tak kuasa kendalikan
Emosi tutupi akal sehat
Berbagai pelangi hantui benak
Terlaku yang tak kumau
Siksa segera tampak
Takuti jiwa sengsarakan raga
Benak terancu harapan pelangi
Hati terpana mati
Batin kembali basah
Membanjir seluruh tubuh
Tenggelamkan diri dalam kolam sesalan
Tak peduli kucoba, tetap ada
Walau begitu kuingin tak dapat
Meungkinkah demikian
Haruskah demikian
Pastilah demikian
Jalan-jalan yang nampak
Hanya tambahkan pilihan
Tanpa keputusan
Harus kujalani semua ini
Dengan keadaan diri yang mati
Demi tercapainya ingin diri
Demi hidupnya hidupku
Demi hidupnya matiku
Walau sakit terasa
Walau pedih terasa
Tak kupeduli apa
Karena kuyakin inilah hidup
Haidup yang harus kuhidupi.



Jakarta, 8 Juli 1994

TERDENGAR



Terdengar indah nyaringnya
Tumbukan meteor yang berbentur
Dalam riuhnya bintang berbaur
Terdengar nyaman dalam telinga
Remuknya hati dilanda cemas
Tengok sapu ruang hindari mata sang pengawas
Terdengar rikuhnya senyum
Tatkala terlihat sepasang tudingan
Yang bertanya dalam nada kewibawaan
Terdengar pilunya maaf
Saat temukan diri terpuruk
Di hadapkan pada secarik daun buruk
Terdengar lelahnya lengan berayun
Mengisi pedih dengan kalam
Saat tersadar pekatnya malam
Terdengar kejinya rayu mereka
Katakan beragam rona
Tak dapat tutupi aroma berbisa

Jakarta, 23 Agustus 1996

S E M O G A



Perlabuhanku bilakah tiba
Masa layar ini memabukkan
Jiwa raga rasa penat lelah
Nurani batin semua terjera

Perlabuhan hidup
Perburuan tak kunjung akhir
Pemuasan diri tak henti
Bagai nyala bara

Mungkinkah semua mengerti
Bentuk diri yang satu ini
Walau tak henti ku lari
Tak kulihat riang di hati

Seandainya gembiraku bahagia sejati
Akan jadi diri kuingin
Tak perduli apa
Takkan lagi bertanya

Gores-gores tawa di wajah
Adalah gores-gores tinta
Terlerai oleh tetes embun
Terburai oleh jerit di hati

Kapankah kan terungkap
Misteri diri menari-nari
Ejek otak lemah berpikir
Untuk menjadi manusia

Tak ada manusia yang manusia
Takkan kuperduli hati
Tak mungkin kuikuti segala
Walau sebersit tak terlintas

Putusnya prosa ini tujuanku
Hingga hilangnya senyum di wajah
Lelahnya jemari berlari
Demi mampuku berjalan

Moga terbukti dayaku
Moga terbukti sukmaku
Moge terbukti jiwaku
Moga terbukti ragaku


Moga.....moga....


Jakarta, 15 Maret 1995

KEHIDUPAN

Lapangnya nyanyianku
Adalah kunci cintaku
Yang kini termenung di atas
Bayang sendu hari nanti
Derasnya tangis ribuan ngengat
Menandai beratnya perjalanan
Hingga bebani sel-sel jiwa
Luruh bersama basahnya nurani
Seakan tidak akan terbangkit
Belulang ini ditampik dan disia
Bagai minuman mengalir menyejukkan
Cintamu kudamba dalam hidupku
Bagi cinta tetap kurindu
Hadirnya keperkasaan sejati
Hanya bagi kematangan jiwa
Tidak hanya kepalan dan butir peluru
Nurani takkan tahankan semua
Inilah prosa dunia penuh aksara
Prosaku yang penuh tanya
Legalah kiranya hati ini
Ketahui yang tak pasti
Telah kuyakin tumbuhkan
Sadar diri akan hidupnya hidup ini.



Jakarta, 15 Maret 1995